Fs ress albino size 12cm
Betina
Cp: jenal arifin
Hp:085773847475
Bb:26413bca
Location jakarta selatan
Bisa kirim kirim pulau jawa
Rabu, 28 Mei 2014
Selasa, 27 Mei 2014
Jual Landak Mini Albino Jambi
Landak Mini Salt Paper 6 bln
Landak Mini Indukan, dan Ane Jamin lagi hamil...
harga:
Landak Mini Albino 3bln
Landak Mini warna putih, saat ini stock ada 8ekor..
harga:
menerima pengiriman ke seluruh sumatra
Aceh , Medan, Padang, Palembang, Bengkulu, Lampung...
menerima pengiriman ke Seluruh Indonesia untuk semua kandang dan perlengkapan hamster.
089624595090 (Whatsapp/Line)
PIN: 27fcb90c
Menu untuk Savannah monitor di alam liar
Menu berikut ini adalah menu untuk savannah monitor di alam liar mereka
CISSE,M. Bulletin de L'insitute Fondamental d'Afrique Noire. 1972 34 (2): 503-515. The diet of
Varanids in Senegal
Millipedes, 48.32%
Coleopterids, 21.22%
Lepidoterans (Chenilles), 15.21%
Orthopterans, 8.84%
The remaining food types included:
Eggs of Agama and V.Exanthematicus, 3.75%
Savannah Monitor
Savannah Monitor (Varanus Exanthematicus) adalah salah satu jenis kadal monitor yang berasal dari Afrika. Spesies ini dikenal di belahan Eropa sebagai Bosch Monitor, nama ini diberikan oleh Louis Bosc semenjak dia berhasil mendeskripsikan spesies ini.
Savannah monitor adalah kadal yang tercipta dengan anggota tubuh dan Ujung kaki yang pendek, serta tulang2 dan gigi yang disesuaikan untuk dapat membunuh mangsa mereka yang cukup keras. Ukuran maksimum dari hewan ini rata sekitar 1 meter panjangnya namun sangat jarang, dan untuk betinanya biasanya lebih kecil.
Corak dan warna dari kulit hewan ini sangat bergantung pada substrate apa yang dipakai. Savannah Monitor mempunya sisik yang cukup kasar dan besar dan berada di sekitar tubuh bagian tengah.
Savannah monitor bisa saja menjadi hewan peliharaan yang tenang dan aman. Ini adalah peliharaan yang baik untuk ditaruh disekitar rumah. Ini adalah beberapa informasi tentang savannah monitor. Nama ilmiah dari savannah monitor adalah Varanus Exanthematicus.
Monitor ini hidup di daerah gurun yang kering. Biasanya tinggal di gurun sahara Africa. Di dalam kelasnya, hewan ini tinggal di dalam gua dengan suhu sekitar 75 C dan mereka makan makanan anjing yang basah. Makanan savmon ketika di alam liar adalah kecoa, burung, serangga, dan reptil2 kecil. Predator hewan ini adalah burung yang lebih besar dari dirinya.
Siklus hidup mulai dari telur, lalu tumbuh menjadi besar, lalu berreproduksi dan mati. Lamanya umur untuk monitor ini +- 11 tahun. Monitor suka tinggal sendirian, tidak suka ber kelompok seperti hewan lainnya. Monitor ini mempunyai 2 atau 3 keturunan seperti hewan reptil kebanyakan.
Savannah Monitor mempunyai gigitan yang keras dan buntut yang keras juga. Buntutnya dapat tumbuh sampai 5 feet. Mereka bukan pelari yang cepat. Savmon mengunyah makanannya dengan keras. Dan mereka benar2 tidak punya wangi/ keharuman.
10 Fakta Buaya

1. Percaya tidak kalau buaya itu sebenarnya bisa ngeluarin air mata? Nah, air mata akan dihasilkan kalo mata seekor buaya jadi kering sehabis berlama-lama ada di luar air. Cairan itu berasal dari kelenjar lachrymal, dan air mata ini juga membantu membersihkan mata.
2. Buaya sanggup bergerak cepat untuk menangkap buruannya. Buaya bisa mencapai kecepatan 18 km per jam. Ini juga tergantung jenis ukuran buaya.
3. Buaya bisa bertahan hidup dengan satu santapan pertahun.
4. Buaya tidak punya bibir. Itu sebabnya mulut seekor buaya tidak rapat waktu ditutup. Namun sewaktu buaya menyelam, ia menutup semua penutup khusus dalam tenggorokannya. Fungsinya, biar air tidak masuk ke dalam paru-paru.
5. Buaya tidak bisa menjulurkan lidah, tidak seperti lidah kita yang terhubung di ujung. Lidah buaya menempel di sepanjang mulutnya.
6. Buaya menelan batu (Gastroliths). Fungsinya sebagai penggiling dan membantu pencernaan.
7. Buaya memiliki kelopak mata yang normal, ditambah dengan kelopak mata transparan yang digunakan sebagai kacamata untuk berenang di bawah air.
8. Seekor buaya betina bisa bertelur sampe 80 butir per tahun dan bisa berkembang biak selama 50 tahun.
9. Buaya mempunyai 18 jari. Dan memiliki 5 jari yang terpisah pada masing-masing kaki depannya, dan 4 jari berselaput pada masing-masing kaki belakangnya.
10. Tahun 1960-an, buaya air asin di Australia diperkirakan hampir punah. Setelah undang-undang perlindungan diberlakukan, populasinya langsung melonjak sampai lebih dari 100 ribu ekor.
BETERNAK BUAYA
Tanmuk didampingi istri dan dua anaknya Robi dan Rolin yang masih kuliah, bertekat menggeluti kehidupan dengan buaya peliharaannya sampai kapanpun. Memelihara binatang melata ini merupakan hoby sejak dari kecil, kata Tanmuk. Peternakan ini sudah merusia 26 tahun, tambah isterinya. Turis yang datang ke Medan tidak lupa mengunjungi tempat ini, untuk melihat bagaimana keadaan buaya yang diternakkan.
Dalam undang-undang yang mengatur tentang satwa langka, buaya termasuk binatang yang dilingungi. Jika dibebaskan menangkap buaya, binatang tersebut akan punah. Bagi Tanmuk, ia tidak sependapat ketentuan itu. Hal itu saya tentang karena saya bisa beternak buaya secara alami saja sudah kewalahan apalagi jika dikelola dengan teknologi yang serba canggih, ucap Tanmuk.
Dijelaskan, buaya mulai reproduksi pada usia 12 tahun. Buaya bertelur sekali dalam setahun. Ia mencari darat dan menggali lobang pada malam hari kemudian bertelur. Jumlah telur 30 sampai dengan 90 butir. Pada malam itu juga telur tersebut ditutupnya kembali dengan rumput-rumput serta tanah tanah yang ada disekitarnya.
Buaya kecil yang baru ditetaskan segera dipindahkan kedalam baskom plastik yang telah disediakan dan diberi makan udang sampai umur tiga tahun. Selanjutnya menu makanan berobah. Walaupun hanya sekali sehari setiap jam setengah lima sore, buaya itu diberi makan bangkai ayam, ular atau apa saja asalkan merupakan daging, ayam mati dikumpulkan dari peternakan ayam yang banyak berada di sekitar kota medan.
Itulah sebabnya saya katakan menantang larangan penangkapan dan penjualan buaya, sebab mau dikemanakan buaya-buaya ini. Kalau diekspor kan baik sekali dapat menambah devisa negara. Namun dahulu mencari izin sampai ke langit tak juga kunjung tiba, keluh Tanmuk.
Di Era Reformasi, izinnya gampang, pokoknya ada badan hukum. Yah kita cari dan pada bulan Oktober 1999 Izin Usaha pengedar kulit buaya ke luar negeri kita peroleh yang dikeluarkan oleh Dirjen Perlindungan Konservasi Alam, tambah Tanmuk.
Sayangnya, kunjungan para turis luar negeri sangat kurang, boleh dikatakan tidak ada , apalagi pengusaha luar yang akan membeli kulit buaya. Untuk peminat dalam negeri harga penawaran rendah dan tidak memadai.
Awalnya tahun 1984, Tanmuk terpilih sebagai seorang Perintis Lingkungan Terbaik 1984 tingkat propinsi Sumatera Utara. Saat itu kebetulan ada kunjungan kapal turis COLUMBUS ke Medan melalui Pelabuhan Belawan. Kantor Wilayah Pariwisata meminta Tanmuk membuka peternakan buayanya sebagai obyek wisata. Tanmuk sempat menolak, alasannya tempat terlalu sempit, pengunjung maupun buaya harus awas supaya tidak terancam. Pokoknya buka dulu nanti kita bina.bujuk Kanwil Pariwisata Medan. Mulai saat itulah peternakan buaya keluarga Tanmuk menjadi obyek wisata.
Untuk menambah penghasilan dan penghidupan serta menghibur wisatawan, maka pengelola mengadakan atraksi. Atraksi berupa permainan buaya dan monyet. Buaya yang sudah terlatih dan jinak disuruh bermain-main dengan monyet yang juga sudah terlatih. Monyet membuka mulut buaya dan menciumnya, kadang sang monyet memasukkan kepalanya pada mulut buaya yang sedang terbuka. Juga monyet memberi makan sang buaya, adalah tontonan langka.
Jemari 31 tahun, kelahiran Kutoarjo, Kabupaten Purworejo. Sudah 10 tahun saya bekerja dan bergelut dengan buaya. Meski sehari-hari memberi makan dan melatih buaya namun ia tidak berani menyebut dirinya pawang buaya.
Sebenarnya kuncinya sesuai dengan pengarahan Pak Tanmuk, perlu hati nurai kita mengasihinya, serta pendekatan yang benar-benar tulus. Dan ingat kata Jemari, buaya buaya ini jangan sempat lapar. Sebab ia bisa mengamuk. Untuk itu para pengunjung dikutip pembayaran Rp 1000 untuk anak dan Rp.2000 untuk dewasa/orang. Dari hasil inilah buaya-buaya itu makan.
«
Langganan:
Komentar (Atom)




